LOMBOK TENGAH - Di tengah berkembangnya destinasi wisata modern di Pulau Lombok, Desa Wisata Sade tetap mempertahankan identitasnya sebagai permukiman adat Suku Sasak yang menjaga tradisi menenun secara turun-temurun. Aktivitas tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan perjalanan lahirnya wastra Nusantara kepada para pengunjung.
Setiap hari, wisatawan yang memasuki kawasan Desa Sade dapat menyaksikan secara langsung proses menenun yang dilakukan para perempuan Sasak menggunakan alat tenun tradisional. Suara kayu yang saling beradu menjadi bagian dari suasana kampung, sementara benang-benang yang tersusun perlahan berubah menjadi kain tenun dengan motif khas Lombok. Pengalaman tersebut menghadirkan gambaran bahwa sebuah kain tidak lahir melalui proses singkat, melainkan melalui keterampilan yang diwariskan lintas generasi.
Bagi masyarakat Sade, menenun merupakan bagian dari kehidupan sosial yang tidak terpisahkan dari tradisi adat. Keterampilan tersebut dipelajari sejak usia muda sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus bekal kehidupan. Melalui proses itu, pengetahuan mengenai pemilihan benang, penyusunan motif, hingga teknik penenunan tetap hidup di lingkungan masyarakat tanpa kehilangan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Keberadaan Desa Wisata Sade memperlihatkan bahwa pelestarian wastra dapat berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata budaya. Wisatawan tidak hanya membeli hasil tenun sebagai cendera mata, tetapi juga memperoleh kesempatan memahami proses pembuatannya secara langsung. Interaksi antara penenun dan pengunjung menjadi ruang edukasi yang memperkenalkan kekayaan tradisi tekstil Nusantara kepada masyarakat yang lebih luas.
Selain mempertahankan aktivitas menenun, masyarakat Sade juga menjaga lingkungan permukiman adat yang masih mencerminkan karakter arsitektur tradisional Sasak. Rumah-rumah beratap alang-alang dan tata ruang kampung yang tetap dipertahankan menghadirkan suasana yang memperkuat pengalaman wisata budaya. Hubungan antara ruang hidup, tradisi menenun, dan kehidupan masyarakat menjadikan Desa Sade tidak hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran mengenai keberlanjutan warisan budaya.
Sebagai salah satu sentra tenun di Indonesia, Desa Wisata Sade menunjukkan bahwa perjalanan wastra Nusantara tidak berhenti pada hasil akhir berupa kain. Nilai sesungguhnya terletak pada masyarakat yang terus menjaga keterampilan, alat, dan tradisi yang melahirkan setiap lembar tenun. Melalui desa inilah warisan budaya Suku Sasak terus hidup, sekaligus memperkaya wajah pariwisata budaya Indonesia. Handoko Suman