SIDOARJO - Prasasti Pasrujambe merupakan salah satu tinggalan epigrafi penting di wilayah Lumajang, Jawa Timur. Benda ini dibuat dari batu andesit dan menggunakan bahasa Jawa Kuno dengan aksara Kawi. Secara fisik, prasasti tidak berbentuk lempeng formal seperti prasasti kerajaan pada umumnya, melainkan batu alam yang diratakan sebagian permukaannya lalu diberi bingkai serta tulisan singkat. Karakter tersebut menunjukkan bahwa fungsi utamanya bukan sebagai dokumen politik, tetapi sebagai penanda ruang tertentu.
Dari sisi arkeologi, lokasi penemuan prasasti berada di kawasan Pasrujambe yang secara geografis terletak di lereng Gunung Semeru. Wilayah ini sejak masa klasik dikenal sebagai jalur pendakian kuno sekaligus tempat pertapaan. Banyak tinggalan batu bertulis di daerah tersebut ditemukan tidak dalam kondisi utuh, melainkan terpisah dan tersebar di beberapa titik. Hal ini memperlihatkan bahwa prasasti Pasrujambe tidak berdiri sebagai satu monumen tunggal, melainkan sebagai bagian dari sistem penanda kawasan yang lebih luas.
Bentuk tulisan yang terdapat pada prasasti juga memperkuat fungsi tersebut. Sebagian batu hanya memuat huruf tunggal, simbol spiral, atau kata pendek dalam bahasa Jawa Kuno. Tidak ditemukan kalimat panjang yang menjelaskan peristiwa politik, penetapan wilayah, atau pemberian tanah seperti pada prasasti sima dari masa Mataram Kuno. Karena itu, isi prasasti Pasrujambe lebih tepat dipahami sebagai penanda ruang sakral atau kawasan pertapaan daripada sebagai catatan administratif kerajaan.
Dalam kajian epigrafi, penggunaan bahasa Jawa Kuno menunjukkan bahwa prasasti ini berasal dari masa klasik Jawa Timur, kemungkinan antara abad ke-10 hingga abad ke-13. Pada masa tersebut, kawasan lereng gunung sering dijadikan tempat aktivitas keagamaan dan pendidikan spiritual. Banyak resi dan pertapa memilih lokasi pegunungan karena dianggap lebih tenang dan jauh dari pusat kekuasaan. Oleh sebab itu, keberadaan prasasti di Pasrujambe dapat dipahami sebagai bagian dari jaringan tempat pertapaan yang berkembang pada periode tersebut.
Selain tulisan, motif yang terlihat pada batu seperti pada foto juga memiliki arti tertentu. Bentuk spiral yang diukir pada sisi kiri dan kanan biasanya tidak dibuat secara dekoratif semata. Dalam tradisi seni batu Jawa Kuno, motif melengkung seperti itu sering digunakan sebagai simbol kesinambungan dan perlindungan. Sementara itu, bingkai persegi yang mengelilingi tulisan menunjukkan bahwa bagian tengah batu diperlakukan sebagai ruang yang memiliki fungsi khusus. Kombinasi antara bingkai dan simbol spiral menunjukkan bahwa batu tersebut berfungsi sebagai tanda yang mudah dikenali oleh orang yang memahami tradisi keagamaan pada masa itu.
Makna tersirat dari motif tersebut berkaitan dengan fungsi kawasan pertapaan. Spiral dapat dipahami sebagai simbol perjalanan spiritual yang bersifat berulang dan terus berkembang. Bingkai persegi menandai batas antara ruang biasa dan ruang yang dianggap suci. Karena itu, prasasti Pasrujambe tidak hanya berfungsi sebagai tulisan, tetapi juga sebagai tanda visual yang menunjukkan bahwa suatu tempat memiliki status khusus. Fungsi simbolik seperti ini sering ditemukan pada tinggalan arkeologi di daerah pegunungan Jawa Timur.
Dari sisi lingkungan, keberadaan prasasti juga menunjukkan hubungan antara manusia dan alam pada masa klasik. Kawasan Pasrujambe yang berada di lereng Semeru memiliki hutan dan sumber air yang penting bagi kehidupan masyarakat pada masa itu. Prasasti yang ditempatkan di lokasi tertentu kemungkinan berfungsi sebagai penanda agar kawasan tersebut tidak dirusak. Hal ini menjelaskan mengapa isi tulisan pada batu cenderung singkat, tetapi tetap memiliki makna yang kuat.
Berdasarkan seluruh ciri tersebut, prasasti Pasrujambe dapat dipahami sebagai bukti arkeologis tentang keberadaan kawasan pertapaan kuno di lereng Semeru. Nilai pentingnya tidak terletak pada panjang tulisan, tetapi pada fungsi simbolik yang ditunjukkan melalui bentuk batu, tulisan singkat, dan motif yang diukir di permukaannya. Dengan demikian, prasasti ini memberikan gambaran bahwa wilayah Pasrujambe pernah menjadi bagian dari jaringan tempat pertapaan yang berkembang pada masa klasik Jawa Timur. Handoko Suman