INFO
BUDAYA

RANGGAWARSITA

Pujangga Terakhir Jawa dan Renungan “Zaman Edan” dalam Serat Kalatidha
RANGGAWARSITA
Pujangga RANGGAWARSITA | FOTO ILUSTRASI : YUFAWAHA

SURAKARTA - Dalam sejarah panjang sastra Jawa, nama Ranggawarsita sering disebut sebagai pujangga besar terakhir dalam tradisi kepujanggaan keraton. Ia hidup pada abad ke-19 dan berkarya di lingkungan Keraton Surakarta, sebuah pusat kebudayaan Jawa yang masih mempertahankan tradisi sastra istana hingga masa kolonial. Melalui karya-karyanya, Ranggawarsita tidak hanya menulis sastra, tetapi juga merumuskan refleksi mendalam tentang perubahan zaman yang sedang terjadi di tanah Jawa.

Berbeda dengan pujangga era Majapahit seperti Mpu Tantular, yang menulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan bentuk kakawin, Ranggawarsita berkarya dalam bahasa Jawa Baru dengan bentuk sastra yang dikenal sebagai serat. Perubahan bentuk ini mencerminkan pergeseran zaman. Jika kakawin berkembang dalam lingkungan kerajaan besar seperti Kerajaan Majapahit, maka serat berkembang dalam lingkungan keraton Jawa yang sedang menghadapi tekanan politik dan perubahan sosial yang besar.

Salah satu karya paling terkenal Ranggawarsita adalah Serat Kalatidha. Teks ini bukan sekadar karya sastra, melainkan renungan filosofis tentang keadaan zaman. Dalam karya tersebut, Ranggawarsita menggambarkan dunia yang sedang mengalami kekacauan moral dan kebingungan nilai. Ia menyebut masa itu sebagai zaman edan, sebuah istilah yang kemudian sangat dikenal dalam kebudayaan Jawa.

Istilah zaman edan dalam Serat Kalatidha sering dipahami sebagai gambaran masyarakat yang kehilangan arah. Dalam bait-baitnya, Ranggawarsita menyinggung bagaimana orang yang jujur justru tersingkir, sementara mereka yang licik dan oportunis sering memperoleh kedudukan. Gambaran ini bukan sekadar kritik sosial, tetapi refleksi tentang perubahan besar yang melanda dunia Jawa pada masa kolonial.

Namun menariknya, dalam renungan tersebut Ranggawarsita tidak berhenti pada pesimisme. Ia juga menawarkan sikap batin yang harus dimiliki manusia ketika menghadapi zaman yang kacau. Dalam salah satu bait yang paling terkenal, ia menyatakan bahwa orang yang hidup di zaman edan harus tetap menjaga kesadaran diri dan kebijaksanaan batin. Sikap ini mencerminkan pandangan hidup Jawa yang menekankan keseimbangan antara kesadaran pribadi dan realitas sosial.

Jika dilihat dalam garis panjang sejarah sastra Nusantara, pemikiran Ranggawarsita memperlihatkan pergeseran nada dibandingkan dengan karya-karya pujangga klasik. Dalam Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menulis tentang harmoni dan kebijaksanaan dalam dunia yang relatif stabil pada masa kejayaan Majapahit. Sementara itu, Ranggawarsita menulis dalam situasi sejarah yang jauh lebih gelisah, ketika struktur sosial lama mulai berubah dan dunia Jawa menghadapi pengaruh kekuasaan kolonial.

Meski demikian, keduanya tetap memiliki kesamaan mendasar dimana sastra dipandang sebagai ruang refleksi untuk memahami kehidupan. Bagi para pujangga Jawa, karya sastra bukan sekadar cerita atau hiburan, melainkan cara untuk merumuskan pandangan tentang manusia, masyarakat, dan perjalanan zaman.

Warisan Ranggawarsita hingga kini masih sering dikutip ketika masyarakat berbicara tentang masa-masa penuh ketidakpastian. Ungkapan zaman edan bahkan telah melampaui konteks sejarahnya dan menjadi metafora budaya yang menggambarkan situasi ketika nilai-nilai lama terasa goyah oleh perubahan zaman.

Dalam hal ini, Ranggawarsita memperlihatkan peran penting seorang pujangga dalam kebudayaan Jawa. Ia bukan sekadar penulis, tetapi juga penafsir zaman. Melalui bait-bait Serat Kalatidha, ia meninggalkan catatan reflektif tentang kegelisahan manusia ketika menghadapi perubahan dunia.

Dan seperti para pujangga besar sebelum dirinya, Ranggawarsita memperlihatkan bahwa sastra sering kali menjadi tempat paling jujur untuk merekam kegelisahan suatu zaman serta sebuah suara sunyi yang tetap bergema jauh melampaui masa hidup pengarangnya. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
BUDAYA

RANGGAWARSITA

Pujangga Terakhir Jawa dan Renungan “Zaman Edan” dalam Serat Kalatidha

Super Admin
15 Mar 2026 • 70x dibaca
RANGGAWARSITA
Pujangga RANGGAWARSITA | FOTO ILUSTRASI : YUFAWAHA

SURAKARTA - Dalam sejarah panjang sastra Jawa, nama Ranggawarsita sering disebut sebagai pujangga besar terakhir dalam tradisi kepujanggaan keraton. Ia hidup pada abad ke-19 dan berkarya di lingkungan Keraton Surakarta, sebuah pusat kebudayaan Jawa yang masih mempertahankan tradisi sastra istana hingga masa kolonial. Melalui karya-karyanya, Ranggawarsita tidak hanya menulis sastra, tetapi juga merumuskan refleksi mendalam tentang perubahan zaman yang sedang terjadi di tanah Jawa.

Berbeda dengan pujangga era Majapahit seperti Mpu Tantular, yang menulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan bentuk kakawin, Ranggawarsita berkarya dalam bahasa Jawa Baru dengan bentuk sastra yang dikenal sebagai serat. Perubahan bentuk ini mencerminkan pergeseran zaman. Jika kakawin berkembang dalam lingkungan kerajaan besar seperti Kerajaan Majapahit, maka serat berkembang dalam lingkungan keraton Jawa yang sedang menghadapi tekanan politik dan perubahan sosial yang besar.

Salah satu karya paling terkenal Ranggawarsita adalah Serat Kalatidha. Teks ini bukan sekadar karya sastra, melainkan renungan filosofis tentang keadaan zaman. Dalam karya tersebut, Ranggawarsita menggambarkan dunia yang sedang mengalami kekacauan moral dan kebingungan nilai. Ia menyebut masa itu sebagai zaman edan, sebuah istilah yang kemudian sangat dikenal dalam kebudayaan Jawa.

Istilah zaman edan dalam Serat Kalatidha sering dipahami sebagai gambaran masyarakat yang kehilangan arah. Dalam bait-baitnya, Ranggawarsita menyinggung bagaimana orang yang jujur justru tersingkir, sementara mereka yang licik dan oportunis sering memperoleh kedudukan. Gambaran ini bukan sekadar kritik sosial, tetapi refleksi tentang perubahan besar yang melanda dunia Jawa pada masa kolonial.

Namun menariknya, dalam renungan tersebut Ranggawarsita tidak berhenti pada pesimisme. Ia juga menawarkan sikap batin yang harus dimiliki manusia ketika menghadapi zaman yang kacau. Dalam salah satu bait yang paling terkenal, ia menyatakan bahwa orang yang hidup di zaman edan harus tetap menjaga kesadaran diri dan kebijaksanaan batin. Sikap ini mencerminkan pandangan hidup Jawa yang menekankan keseimbangan antara kesadaran pribadi dan realitas sosial.

Jika dilihat dalam garis panjang sejarah sastra Nusantara, pemikiran Ranggawarsita memperlihatkan pergeseran nada dibandingkan dengan karya-karya pujangga klasik. Dalam Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menulis tentang harmoni dan kebijaksanaan dalam dunia yang relatif stabil pada masa kejayaan Majapahit. Sementara itu, Ranggawarsita menulis dalam situasi sejarah yang jauh lebih gelisah, ketika struktur sosial lama mulai berubah dan dunia Jawa menghadapi pengaruh kekuasaan kolonial.

Meski demikian, keduanya tetap memiliki kesamaan mendasar dimana sastra dipandang sebagai ruang refleksi untuk memahami kehidupan. Bagi para pujangga Jawa, karya sastra bukan sekadar cerita atau hiburan, melainkan cara untuk merumuskan pandangan tentang manusia, masyarakat, dan perjalanan zaman.

Warisan Ranggawarsita hingga kini masih sering dikutip ketika masyarakat berbicara tentang masa-masa penuh ketidakpastian. Ungkapan zaman edan bahkan telah melampaui konteks sejarahnya dan menjadi metafora budaya yang menggambarkan situasi ketika nilai-nilai lama terasa goyah oleh perubahan zaman.

Dalam hal ini, Ranggawarsita memperlihatkan peran penting seorang pujangga dalam kebudayaan Jawa. Ia bukan sekadar penulis, tetapi juga penafsir zaman. Melalui bait-bait Serat Kalatidha, ia meninggalkan catatan reflektif tentang kegelisahan manusia ketika menghadapi perubahan dunia.

Dan seperti para pujangga besar sebelum dirinya, Ranggawarsita memperlihatkan bahwa sastra sering kali menjadi tempat paling jujur untuk merekam kegelisahan suatu zaman serta sebuah suara sunyi yang tetap bergema jauh melampaui masa hidup pengarangnya. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Topik Terkait
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri