INFO
Vritta Nara → Portal Media & Nuswantara Vritta → Majalah Digital : Budaya - Arsitektur dan Pariwisata Indonesia
Diskon 30% untuk pembelian tiket di candi.tiket
ARSITEKTUR

RUMAH TJONG A FIE - Merekam Pertemuan Budaya Barat dan Timur

Bangunan bersejarah di Kesawan memperlihatkan pertemuan arsitektur Tionghoa, Melayu dan Eropa pada awal abad kedua puluh.
RUMAH TJONG A FIE - Merekam Pertemuan Budaya Barat dan Timur
BCB Rumah Tjong A Fie | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

MEDAN — Rumah Tjong A Fie di kawasan Kesawan memperlihatkan pertemuan berbagai kebudayaan yang berkembang dalam kehidupan Kota Medan pada awal abad ke-20.

Bangunan yang berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani No.105 tersebut merupakan rumah tinggal yang dibangun pada awal abad ke-20. Rumah ini kemudian menjadi salah satu bangunan bersejarah yang masih bertahan di kawasan Kesawan dan ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Nasional pada 2015.

Karakter arsitekturnya memperlihatkan perpaduan beberapa kebudayaan. Unsur Tionghoa terlihat pada pintu gerbang dan ornamen bangunan. Unsur Melayu tampak pada sejumlah elemen seperti jendela kayu, sementara tiang-tiang besar di bagian dalam memperlihatkan pengaruh Eropa.

Perpaduan tersebut tidak hanya terlihat sebagai hiasan. Rumah terdiri atas bangunan utama dengan tambahan sayap di sisi kiri dan kanan yang dipisahkan ruang terbuka. Pembagian ruang juga berkaitan dengan kehidupan sosial penghuni dan tamu yang datang dari latar budaya berbeda.

Rumah Tjong A Fie berkembang dalam lingkungan Kesawan yang menjadi bagian penting dari pertumbuhan Kota Medan. Perdagangan dan perkebunan mendorong perkembangan kota sekaligus mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Kondisi tersebut menjadikan arsitektur sebagai salah satu rekaman perubahan sosial. Bentuk bangunan memperlihatkan bagaimana kebutuhan kehidupan, hubungan sosial dan pengaruh budaya dapat hadir secara bersamaan dalam satu ruang.

Tjong A Fie sendiri merupakan saudagar yang memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi dan kehidupan sosial Kota Medan. Hubungannya dengan berbagai kelompok masyarakat turut menempatkan rumah tersebut dalam sejarah perkembangan kota.

Bangunan ini kemudian mengalami perubahan fungsi. Sejak 2009, rumah tersebut dibuka sebagai museum sehingga masyarakat dapat melihat kembali ruang, perabotan dan berbagai benda yang berkaitan dengan kehidupan keluarga Tjong A Fie.

Perubahan fungsi dari rumah tinggal menjadi museum memperlihatkan cara bangunan bersejarah memperoleh kehidupan baru. Fungsi hunian tidak lagi menjadi fungsi utama, tetapi bentuk dan bagian penting bangunan tetap dipertahankan sebagai sumber pengetahuan sejarah.

Keberadaan rumah tersebut juga memperlihatkan bahwa identitas arsitektur sebuah kota dapat terbentuk dari pertemuan berbagai kelompok. Arsitektur Tionghoa, Melayu dan Eropa tidak berdiri sendiri, tetapi hadir dalam satu bangunan yang berkembang di lingkungan perkotaan Medan.

Kesawan kemudian tumbuh sebagai kawasan yang memperlihatkan hubungan antara perdagangan, permukiman dan bangunan bersejarah. Rumah Tjong A Fie menjadi salah satu bagian dari lingkungan tersebut dan membantu memperlihatkan perjalanan kota dari masa lalu hingga sekarang.

Arsitektur dalam bangunan ini tidak hanya menunjukkan bagaimana sebuah rumah dibangun. Setiap elemen juga membawa informasi mengenai masyarakat yang hidup di dalamnya dan hubungan budaya yang berkembang di sekitarnya.

Rumah Tjong A Fie akhirnya menjadi salah satu penanda bahwa perubahan Kota Medan berlangsung melalui pertemuan banyak unsur. Bangunan tersebut menyimpan jejak kehidupan masyarakat yang membentuk kota melalui perdagangan, hubungan sosial dan pertukaran budaya.

Lebih dari satu abad setelah dibangun, rumah tersebut masih dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah arsitektur Kota Medan. Perubahan fungsi menjadi museum membuat bangunan tetap hadir dalam kehidupan masyarakat sekaligus menjadi ruang untuk mengenali kembali keberagaman budaya yang pernah membentuk kota. Handoko Suman  

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
ARSITEKTUR

RUMAH TJONG A FIE - Merekam Pertemuan Budaya Barat dan Timur

Bangunan bersejarah di Kesawan memperlihatkan pertemuan arsitektur Tionghoa, Melayu dan Eropa pada awal abad kedua puluh.

Super Admin
15 Sep 2026 • 134x dibaca
RUMAH TJONG A FIE - Merekam Pertemuan Budaya Barat dan Timur
BCB Rumah Tjong A Fie | Foto Ilustrasi : YUFAWAHA

MEDAN — Rumah Tjong A Fie di kawasan Kesawan memperlihatkan pertemuan berbagai kebudayaan yang berkembang dalam kehidupan Kota Medan pada awal abad ke-20.

Bangunan yang berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani No.105 tersebut merupakan rumah tinggal yang dibangun pada awal abad ke-20. Rumah ini kemudian menjadi salah satu bangunan bersejarah yang masih bertahan di kawasan Kesawan dan ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Nasional pada 2015.

Karakter arsitekturnya memperlihatkan perpaduan beberapa kebudayaan. Unsur Tionghoa terlihat pada pintu gerbang dan ornamen bangunan. Unsur Melayu tampak pada sejumlah elemen seperti jendela kayu, sementara tiang-tiang besar di bagian dalam memperlihatkan pengaruh Eropa.

Perpaduan tersebut tidak hanya terlihat sebagai hiasan. Rumah terdiri atas bangunan utama dengan tambahan sayap di sisi kiri dan kanan yang dipisahkan ruang terbuka. Pembagian ruang juga berkaitan dengan kehidupan sosial penghuni dan tamu yang datang dari latar budaya berbeda.

Rumah Tjong A Fie berkembang dalam lingkungan Kesawan yang menjadi bagian penting dari pertumbuhan Kota Medan. Perdagangan dan perkebunan mendorong perkembangan kota sekaligus mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Kondisi tersebut menjadikan arsitektur sebagai salah satu rekaman perubahan sosial. Bentuk bangunan memperlihatkan bagaimana kebutuhan kehidupan, hubungan sosial dan pengaruh budaya dapat hadir secara bersamaan dalam satu ruang.

Tjong A Fie sendiri merupakan saudagar yang memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi dan kehidupan sosial Kota Medan. Hubungannya dengan berbagai kelompok masyarakat turut menempatkan rumah tersebut dalam sejarah perkembangan kota.

Bangunan ini kemudian mengalami perubahan fungsi. Sejak 2009, rumah tersebut dibuka sebagai museum sehingga masyarakat dapat melihat kembali ruang, perabotan dan berbagai benda yang berkaitan dengan kehidupan keluarga Tjong A Fie.

Perubahan fungsi dari rumah tinggal menjadi museum memperlihatkan cara bangunan bersejarah memperoleh kehidupan baru. Fungsi hunian tidak lagi menjadi fungsi utama, tetapi bentuk dan bagian penting bangunan tetap dipertahankan sebagai sumber pengetahuan sejarah.

Keberadaan rumah tersebut juga memperlihatkan bahwa identitas arsitektur sebuah kota dapat terbentuk dari pertemuan berbagai kelompok. Arsitektur Tionghoa, Melayu dan Eropa tidak berdiri sendiri, tetapi hadir dalam satu bangunan yang berkembang di lingkungan perkotaan Medan.

Kesawan kemudian tumbuh sebagai kawasan yang memperlihatkan hubungan antara perdagangan, permukiman dan bangunan bersejarah. Rumah Tjong A Fie menjadi salah satu bagian dari lingkungan tersebut dan membantu memperlihatkan perjalanan kota dari masa lalu hingga sekarang.

Arsitektur dalam bangunan ini tidak hanya menunjukkan bagaimana sebuah rumah dibangun. Setiap elemen juga membawa informasi mengenai masyarakat yang hidup di dalamnya dan hubungan budaya yang berkembang di sekitarnya.

Rumah Tjong A Fie akhirnya menjadi salah satu penanda bahwa perubahan Kota Medan berlangsung melalui pertemuan banyak unsur. Bangunan tersebut menyimpan jejak kehidupan masyarakat yang membentuk kota melalui perdagangan, hubungan sosial dan pertukaran budaya.

Lebih dari satu abad setelah dibangun, rumah tersebut masih dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah arsitektur Kota Medan. Perubahan fungsi menjadi museum membuat bangunan tetap hadir dalam kehidupan masyarakat sekaligus menjadi ruang untuk mengenali kembali keberagaman budaya yang pernah membentuk kota. Handoko Suman  

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri