YOGJAKARTA - Blangkon bukan sekadar penutup kepala. Di balik lipatan kain batiknya, tersimpan sejarah panjang, nilai filosofi, dan cara pandang orang Jawa dalam memaknai hidup. Dari relief candi hingga busana adat keraton, blangkon menjadi saksi perjalanan kebudayaan Jawa yang terus bertransformasi tanpa kehilangan akar tradisinya.
Jejak awal blangkon dapat ditelusuri jauh sebelum istilah itu dikenal. Pada masa Jawa Kuna, masyarakat telah mengenal Iket atau Udheng, kain panjang yang dililitkan di kepala. Relief Candi Borobudur dan Prambanan memperlihatkan figur laki-laki dengan ikat kepala sederhana sebagai penanda status sosial sekaligus pelindung dari panas dan debu. Dalam pandangan kosmologi Jawa, kepala (sirah) merupakan bagian tubuh yang paling utama, tempat bersemayamnya kesadaran dan kehormatan diri. Karena itu, menutup kepala bukan sekadar urusan praktis, tetapi juga simbolik.
Perubahan besar terjadi seiring masuknya Islam ke Jawa pada abad ke-15. Nilai kesopanan, keteraturan, dan simbol pengendalian diri semakin menguat. Ikat kepala yang semula fleksibel mulai dibentuk lebih rapi dan permanen. Dari sinilah blangkon, sebagaimana dikenal hari ini, mulai menemukan bentuknya. Kesultanan Mataram Islam kemudian menjadikan blangkon sebagai bagian tak terpisahkan dari busana adat resmi, terutama di lingkungan keraton.
Seiring pecahnya Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, blangkon pun mengalami diferensiasi bentuk. Blangkon Surakarta dikenal dengan tonjolan di bagian belakang yang disebut Mondholan. Tonjolan ini bukan sekadar estetika, melainkan simbol kemampuan menyimpan rahasia dan menahan hawa nafsu dan nilai penting dalam etika sosial Jawa. Sementara itu, blangkon Yogyakarta tampil lebih sederhana dan rata di bagian belakang, mencerminkan sikap keterbukaan dan keteguhan prinsip.
Blangkon juga tak lepas dari bahasa simbol melalui motif batik yang digunakan. Motif parang melambangkan kekuatan dan kesinambungan, kawung merepresentasikan keseimbangan kosmos, sementara truntum menjadi simbol kasih sayang dan tuntunan moral. Pemilihan motif bukan perkara selera semata, melainkan cerminan posisi sosial, konteks acara, dan nilai yang hendak disampaikan pemakainya.
Proses pembuatan blangkon tradisional pun menyimpan cerita tersendiri. Ia dibuat dari kain batik tulis berbahan katun halus, dipadukan dengan lapisan dalam yang berfungsi sebagai rangka. Dahulu, blangkon dibuat secara khusus mengikuti ukuran kepala pemakainya. Setiap lipatan dijahit dengan tangan, memastikan bentuknya presisi dan nyaman dikenakan. Dalam praktik ini, blangkon menjadi benda personal serta nyaris seperti perpanjangan dari identitas diri.
Namun zaman bergerak. Memasuki abad ke-20 hingga kini, fungsi blangkon mengalami pergeseran. Ia tidak lagi eksklusif milik bangsawan atau pelengkap ritual adat. Blangkon hadir di ruang-ruang baru seperti di panggung seni, festival budaya, hingga dunia fesyen urban. Bentuknya dibuat lebih ringan dan praktis, bahkan diproduksi massal. Meski sebagian nilai simboliknya memudar, kehadiran blangkon di ruang publik justru menandai upaya generasi baru untuk merawat identitas kultural.
Blangkon hari ini berdiri di persimpangan antara tradisi dan modernitas. Ia tidak membeku sebagai artefak museum, tetapi terus beradaptasi mengikuti zaman. Dalam lipatan kainnya, blangkon menyimpan pelajaran tentang bagaimana budaya Jawa bertahan dengan lentur, reflektif, dan selalu mencari keseimbangan antara masa lalu dan masa depan. Handoko Suman