INFO
BUDAYA

GESANG dan KESETIAAN pada Sunyi Kota Solo

Dengan Kerendahan Hati dan Keroncong Menaklukan Dunia.
GESANG dan KESETIAAN pada Sunyi Kota Solo
Mural Gesang Martohartono | Foto : Yufawaha

SURAKARTA - Ia menulis lagu yang tidak berteriak minta dikenang. Tapi justru lagu itulah yang bertahan paling lama. Gesang Martohartono tidak pernah merancang dirinya sebagai legenda. Ia hidup pelan di Solo, setia pada kesunyian, sementara karyanya berjalan jauh melintasi zaman dan bangsa.

Gesang lahir di Surakarta, 1 Oktober 1917, dari keluarga Jawa biasa. Ayahnya, Martohartono, pekerja kecil kota. Ibunya, Sukirah, perempuan kampung. Ia tumbuh di lingkungan Kauman Solo, kawasan religius dan padat di pusat kota, yang kelak menjadi saksi bisu hidupnya dengan keterbatasan ekonomi, buruh serabutan, hingga seniman besar. Kauman bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pembentukan rasa, dekat masjid, pasar, sungai, dan denyut kehidupan rakyat.

Nama “Gesang”, yang berarti hidup dalam bahasa Jawa, adalah nama kecil sekaligus nama lahirnya. Bukan nama panggung. Bukan pula simbol yang dibangun kemudian. Nama itu terasa seperti penanda jalan hidupnya seperti hidup yang dijalani tanpa banyak suara, tetapi meninggalkan gema panjang.

Gesang kecil harus putus sekolah. Ia bekerja sejak remaja sebagai tukang becak dan buruh serabutan. Musik datang bukan sebagai ambisi, melainkan sebagai pelarian. Ia belajar dari telinga saat mendengar gamelan, tembang Jawa, dan keroncong yang kala itu masih dipengaruhi budaya Indo-Eropa. Dari Kauman yang sederhana, ia menyerap dunia tanpa pernah merasa perlu menjadi pusatnya.

Pada 1940, ia menulis Bengawan Solo. Lagu itu kemudian menjelma menjadi “hit” lintas zaman dan lintas bangsa. Namun Gesang bukan hanya Bengawan Solo. Ia menulis puluhan lagu lain yang merekam ruang, perasaan, dan kesederhanaan hidup. Caping Gunung merekam dunia petani. Pamitan menyingkap perpisahan tanpa melodrama. Jembatan Merah memuat ingatan ruang dan kehilangan. Tirtonadi menautkan musik dengan lanskap kota Solo.

Pengakuan besar justru datang dari luar negeri. Pasca Perang Dunia II, Bengawan Solo menjadi sangat populer di Jepang. Lagu itu direkam dan dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi, hingga menjadi bagian dari ingatan kolektif Asia. Ironisnya, Gesang tetap tinggal di Solo, menjalani hidup sederhana, jauh dari gemerlap ketenaran.

Dalam dunia seni, Gesang dikenal sebagai figur yang rendah hati. Ia tidak menempatkan diri sebagai maestro yang harus ditinggikan. Ia lebih sering menjadi pendengar. Ia membuka ruang bagi generasi muda tanpa merasa terancam. Keroncong, baginya, bukan panggung untuk menang, melainkan ruang untuk berbagi rasa.

Negara baru memberi penghargaan di usia senja. Pada 2003, Gesang menerima Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia. Pada 2010, ia dianugerahi Bintang Budaya Parama Dharma, penghargaan tertinggi negara di bidang kebudayaan. Gelar “Maestro Keroncong” melekat padanya bukan karena klaim pribadi, melainkan karena kesetiaan panjangnya pada satu jalur musik.

Gesang wafat pada 20 Mei 2010. Kauman Solo kembali sunyi. Namun lagu-lagunya tetap hidup. Seperti Bengawan Solo, musik Gesang terus mengalir pelan, jujur, dan melintasi generasi.

Ia bukan hanya pencipta lagu. Gesang adalah penjaga rasa, saksi kota, dan suara sunyi wong cilik yang menjadikan kesederhanaan sebagai warisan kebudayaan. Handoko Suman

 

Ditulis oleh Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA.

Lihat Artikel Lainnya →
NUSWANTARA
BUDAYA

GESANG dan KESETIAAN pada Sunyi Kota Solo

Dengan Kerendahan Hati dan Keroncong Menaklukan Dunia.

Super Admin
23 Jan 2026 • 78x dibaca
GESANG dan KESETIAAN pada Sunyi Kota Solo
Mural Gesang Martohartono | Foto : Yufawaha

SURAKARTA - Ia menulis lagu yang tidak berteriak minta dikenang. Tapi justru lagu itulah yang bertahan paling lama. Gesang Martohartono tidak pernah merancang dirinya sebagai legenda. Ia hidup pelan di Solo, setia pada kesunyian, sementara karyanya berjalan jauh melintasi zaman dan bangsa.

Gesang lahir di Surakarta, 1 Oktober 1917, dari keluarga Jawa biasa. Ayahnya, Martohartono, pekerja kecil kota. Ibunya, Sukirah, perempuan kampung. Ia tumbuh di lingkungan Kauman Solo, kawasan religius dan padat di pusat kota, yang kelak menjadi saksi bisu hidupnya dengan keterbatasan ekonomi, buruh serabutan, hingga seniman besar. Kauman bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pembentukan rasa, dekat masjid, pasar, sungai, dan denyut kehidupan rakyat.

Nama “Gesang”, yang berarti hidup dalam bahasa Jawa, adalah nama kecil sekaligus nama lahirnya. Bukan nama panggung. Bukan pula simbol yang dibangun kemudian. Nama itu terasa seperti penanda jalan hidupnya seperti hidup yang dijalani tanpa banyak suara, tetapi meninggalkan gema panjang.

Gesang kecil harus putus sekolah. Ia bekerja sejak remaja sebagai tukang becak dan buruh serabutan. Musik datang bukan sebagai ambisi, melainkan sebagai pelarian. Ia belajar dari telinga saat mendengar gamelan, tembang Jawa, dan keroncong yang kala itu masih dipengaruhi budaya Indo-Eropa. Dari Kauman yang sederhana, ia menyerap dunia tanpa pernah merasa perlu menjadi pusatnya.

Pada 1940, ia menulis Bengawan Solo. Lagu itu kemudian menjelma menjadi “hit” lintas zaman dan lintas bangsa. Namun Gesang bukan hanya Bengawan Solo. Ia menulis puluhan lagu lain yang merekam ruang, perasaan, dan kesederhanaan hidup. Caping Gunung merekam dunia petani. Pamitan menyingkap perpisahan tanpa melodrama. Jembatan Merah memuat ingatan ruang dan kehilangan. Tirtonadi menautkan musik dengan lanskap kota Solo.

Pengakuan besar justru datang dari luar negeri. Pasca Perang Dunia II, Bengawan Solo menjadi sangat populer di Jepang. Lagu itu direkam dan dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi, hingga menjadi bagian dari ingatan kolektif Asia. Ironisnya, Gesang tetap tinggal di Solo, menjalani hidup sederhana, jauh dari gemerlap ketenaran.

Dalam dunia seni, Gesang dikenal sebagai figur yang rendah hati. Ia tidak menempatkan diri sebagai maestro yang harus ditinggikan. Ia lebih sering menjadi pendengar. Ia membuka ruang bagi generasi muda tanpa merasa terancam. Keroncong, baginya, bukan panggung untuk menang, melainkan ruang untuk berbagi rasa.

Negara baru memberi penghargaan di usia senja. Pada 2003, Gesang menerima Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia. Pada 2010, ia dianugerahi Bintang Budaya Parama Dharma, penghargaan tertinggi negara di bidang kebudayaan. Gelar “Maestro Keroncong” melekat padanya bukan karena klaim pribadi, melainkan karena kesetiaan panjangnya pada satu jalur musik.

Gesang wafat pada 20 Mei 2010. Kauman Solo kembali sunyi. Namun lagu-lagunya tetap hidup. Seperti Bengawan Solo, musik Gesang terus mengalir pelan, jujur, dan melintasi generasi.

Ia bukan hanya pencipta lagu. Gesang adalah penjaga rasa, saksi kota, dan suara sunyi wong cilik yang menjadikan kesederhanaan sebagai warisan kebudayaan. Handoko Suman

 

Bagikan:
Ditulis Oleh
Super Admin

Jurnalis dan kontributor aktif di NUSWANTARA. Menyajikan berita terkini dan terpercaya untuk Anda.

Lihat Artikel Lainnya
Topik Terkait
Beranda Berita
Majalah
Jelajah Galeri