SURAKARTA - Ketika simbol penanda kekuasaan dicetak pada tubuh meriam kolonial, ia bekerja sebagai bahasa yang paling lantang, tenang, berat, dan tak membutuhkan suara. Di antara karat, retak usia, dan bekas cuaca tropis, negara kolonial Belanda menanamkan identitasnya secara sadar sebagai mahkota, figur manusia, daun kemenangan, dan ornamen teknik. Semua elemen itu dipahat langsung pada besi cor yang dirancang untuk memuntahkan proyektil berkaliber besar. Meriam bukan sekadar senjata, melainkan pernyataan politik yang dipajang terbuka di ruang jajahan.
Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, meriam adalah representasi negara sebelum menjadi artefak sejarah. Setiap meriam produksi Eropa lazim diberi tanda resmi sebagai penegasan kepemilikan dan legitimasi. Mahkota pada lambang menandai relasi langsung dengan kerajaan, menunjukkan bahwa senjata tersebut berada di bawah otoritas negara, bukan milik pribadi perwira atau satuan lokal. Dalam konteks Hindia Belanda, kehadiran mahkota ini mengirim pesan yang jelas: kekuasaan kolonial hadir secara sah dan permanen, dijaga oleh teknologi militer modern.
Bagian tengah lambang kerap menampilkan dua figur kepala manusia yang saling berhadapan. Dalam tradisi heraldik Eropa, figur semacam ini tidak dimaksudkan sebagai potret literal, melainkan alegori. Dua wajah tersebut dapat dibaca sebagai simbol relasi antara penguasa dan yang dikuasai, pusat dan koloni, atau hukum dan pelaksana. Pemerintahan kolonial kerap membungkus praktik dominasi dalam bahasa ketertiban dan perjanjian, seolah relasi kekuasaan berlangsung seimbang, meski kenyataannya ditopang oleh ancaman senjata.
Lingkaran yang membingkai dua figur itu memperkuat kesan keteraturan. Dalam simbolisme Eropa, lingkaran melambangkan sistem yang utuh, berkesinambungan, dan stabil. Dengan menempatkan relasi kuasa dalam bingkai semacam ini, negara kolonial menampilkan dirinya sebagai tatanan yang rasional dan sah. Meriam dengan lambang tersebut tidak hanya menjaga benteng atau pelabuhan, tetapi juga menjadi pengingat visual bahwa ketertiban kolonial diklaim berdiri di atas hukum, meski ujung larasnya selalu siap menegaskan batas.
Ornamen di sisi lambang, menyerupai sayap atau daun laurel, berbicara dalam bahasa kemenangan. Laurel sejak masa Romawi kuno digunakan untuk menandai kejayaan militer dan legitimasi penguasa. Pada meriam kolonial, simbol ini berfungsi memuliakan kekuatan senjata sekaligus menormalisasi kekerasan sebagai instrumen sah negara. Dipajang di benteng, alun-alun, atau titik strategis kota, meriam berhias laurel menjadi pernyataan sunyi bahwa ruang publik berada dalam jangkauan kekuasaan bersenjata.
Di bagian bawah lambang sering ditemukan bentuk gulungan, spiral, atau roda yang mengisyaratkan dunia teknik dan mekanika. Unsur ini merujuk pada kebanggaan Eropa terhadap kemajuan industri dan rasionalitas teknologi. Meriam kolonial umumnya berkaliber menengah hingga berat, dirancang untuk pertahanan kota, pelabuhan, dan instalasi vital. Penempatan lambang negara pada tubuh meriam berkaliber besar menegaskan bahwa teknologi dan kekuasaan berjalan seiring dimana negara hadir melalui besi, hitungan teknis, dan kemampuan menghancurkan.
Simbol-simbol tersebut bekerja serempak sebagai bahasa visual kolonialisme. Ia menandai kepemilikan, memproyeksikan legitimasi, dan membangun imaji superioritas teknologi Eropa. Dalam kajian sejarah material, lambang pada meriam dapat dibaca sebagai arsip bisu yang menghubungkan persenjataan, ideologi negara, dan praktik kolonial di lapangan. Ia menyimpan narasi tentang bagaimana kekuasaan ditata, dipertontonkan, dan dipaksakan.
Hari ini, ketika meriam kolonial lebih sering diperlakukan sebagai artefak wisata atau dekorasi kota, simbol di tubuhnya tetap menyimpan daya kritis yang tak boleh diabaikan. Ia mengingatkan bahwa kolonialisme tidak hanya bekerja melalui teks hukum dan administrasi, tetapi juga melalui benda, visual, dan simbol yang sengaja dipamerkan di ruang publik. Membaca ulang simbol pada meriam berarti membuka percakapan yang lebih jujur tentang masa lalu dan tentang kekuasaan yang tampil tenang dalam lambang, rasional dalam bahasa, namun selalu bersandar pada ancaman kekerasan dari ujung laras besi. Handoko Suman