YOGYAKARTA - Di antara warisan tertulis Islam di Nusantara, terdapat satu jenis artefak yang kerap disalahpahami sebagai mushaf Al-Qur’an, padahal secara filologis justru lebih tepat disebut sebagai naskah Islam lontar. Naskah ini ditulis di atas daun lontar, media tulis tradisional yang telah digunakan masyarakat Jawa jauh sebelum kedatangan Islam. Dalam beberapa sumber seperti yang ditampilkan memperlihatkan bentuk khas naskah lontar berupa lembaran memanjang, diikat, dan ditulisi dengan aksara Arab. Namun, struktur tulisannya menunjukkan bahwa ia bukan mushaf Al-Qur’an, melainkan teks keislaman lain yang hidup dalam tradisi intelektual Islam Jawa.
Sebelum Islam hadir, Jawa telah mengenal budaya literasi melalui lontar dan daluang. Kitab-kitab Hindu dan Buddha, serat keraton, hingga babad ditulis dengan teknik yang sama. Ketika Islam masuk pada abad ke-14 dan ke-15, tradisi tulis ini tidak ditinggalkan. Sebaliknya, ia menjadi wadah baru bagi teks-teks Islam seperti doa, hikayat nabi, suluk tasawuf, hingga kitab-kitab pengajaran pesantren. Dengan kata lain, Islam tidak datang membawa teknologi tulis baru, melainkan mengislamkan teknologi lama.
Jika melihat dan memaknai tulisan menunjukkan ciri kuat teks naratif dengan baris panjang, tanpa pemisah ayat, tanpa penomoran, dan tidak mengikuti pola ritmis mushaf Al-Qur’an. Ini menandakan bahwa isinya berupa suluk (teks mistik), hikayat keagamaan, atau kitab doa dan wirid. Jenis teks seperti ini sangat umum di lingkungan pesantren dan keraton Jawa Islam, terutama pada abad ke-16 hingga ke-18, ketika proses internalisasi Islam berlangsung intens.
Dalam tradisi Islam Jawa, teks semacam ini berfungsi sebagai jembatan antara wahyu dan pengalaman hidup. Jika Al-Qur’an adalah sumber utama, maka naskah lontar Islam adalah bentuk penjelasan, perenungan, dan penghayatan lokal terhadap wahyu. Di dalamnya sering dibahas tema-tema seperti perjalanan ruh, makrifat, adab hidup, laku spiritual, serta kisah-kisah nabi yang dituturkan dengan bahasa budaya Jawa.
Keberadaan naskah Islam lontar menunjukkan bahwa Islam di Jawa berkembang sebagai tradisi intelektual, bukan sekadar ritual. Para penyalinnya biasanya adalah santri, kiai, atau juru tulis keraton yang memiliki kemampuan bahasa Arab sekaligus pemahaman budaya lokal. Mereka tidak sekadar menyalin, tetapi juga menafsir, menyusun ulang, bahkan mengolah isi teks agar sesuai dengan kosmologi Jawa. Inilah sebabnya mengapa banyak naskah Islam Jawa tidak bisa dikategorikan sebagai teks Arab murni, melainkan hibrida antara Arab dan Jawa.
Dari sisi peradaban, naskah lontar ini menempati posisi penting. Ia menandai fase ketika Islam tidak lagi sekadar agama pendatang, tetapi telah menjadi bagian dari sistem pengetahuan Jawa. Islam tidak memutus masa lalu, melainkan berdialog dengannya. Lontar sebagai simbol peradaban pra-Islam diisi dengan nilai tauhid, etika Islam, dan spiritualitas sufistik.
Memasuki abad ke-19, ketika kertas Eropa mulai meluas dan percetakan berkembang, tradisi naskah lontar perlahan ditinggalkan. Teks-teks Islam mulai dicetak massal, dan fungsi lontar beralih menjadi arsip budaya. Hari ini, naskah semacam ini tersimpan di museum, perpustakaan nasional, keraton, serta koleksi luar negeri seperti Leiden dan British Library.
Namun, makna naskah Islam lontar justru semakin relevan di era digital. Ketika teks keagamaan kini hadir instan dalam layar gawai, naskah lontar mengingatkan bahwa dahulu ilmu ditulis dengan kesabaran, dibaca dengan ketekunan, dan dihayati sebagai laku spiritual. Ia bukan sekadar teks, melainkan proses peradaban.
Naskah Islam lontar akhirnya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bukti bahwa Islam Jawa tumbuh melalui jalur intelektual dan kultural. Ia adalah jejak bahwa peradaban Islam di Jawa dibangun lewat dialog antara wahyu dan tradisi, antara langit dan bumi, antara teks suci dan pengalaman manusia. Di situlah letak kekhasan Islam di Nusantara bukan hanya agama yang dibaca, tetapi peradaban yang ditulis. Handoko Suman